BERANDA

Rokok Kretek dan Perlawanan

demo-kretek
Spanduk yang beredar pada peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia

KRETEK dan KONSPIRASI dibaliknya (bag. 1)

“Tembakau itu suatu tanaman asing yang dipaksakan ditanam di Indonesia untuk pembentukan modal bagi kekuatan merkantilisme dan industri di negeri Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia. Sebagai penjajah, Nederlandse Indie akan menjadikan Indonesia sebagai perkebunan raya yang menghasilkan hasil agraria yang nanti akhirnya menjadi modal bagi pembentukan industri dan kekuatan merkantilisme di Ibu Negeri jajahan. Orang Indonesia menanam tanaman-tanaman seperti kopi, lalu termasuk tembakau dan lain sebagainya tanpa dia bisa mengekspornya sebagai tanaman yang sangat menguntungkan perdagangan luar negeri. Bayangkan saja para petani tembakau, getah, gula dan lain sebagainya tidak bisa mengekspornya, harus disetor kepada penjajah dan merekalah yang akan mengekspornya. Kita menanam tembakau dan kopi, tetapi yang menentukan harga dan penggunaan produk itu adalah Bremen dan Antwerpen.” (WS. Rendra)

Dalam buku “Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran kretek” dituliskan sebagian tentang sejarah kretek berikut. – Menurut keterangan De Candolle, tanaman tembakau pertama kali diperkenalkan oleh Portugis di Jawa tahun 1600. Tak jauh berbeda, B.H.M Vlekke, dalam bukunya Nusantara: a History of Indonesia menyatakan, tembakau telah dibawa ke Asia oleh orang-orang Spanyol melalui Filipina dan mulai diketahui di Indonesia pada akhir kurun abad ke-16. Senada dengan Vlekke, Tijdschrift voor Nederlandsche-India dalam artikel berjudul “Lets Over de Tabakskultuur op Java” menyatakan, tanaman tembakau telah diketahui di Hindia Belanda pada akhir membudidayakan. Penduduk asli pada waktu itu menanam tembakau untuk kepentingan mereka sendiri. Terlepas dari siapa yang mula-mula memperkenalkan dan memulai budidaya tembakau di Nusantara, Denys  Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya II (Jaringan Asia) menulis:  “Sejak tahun 1603, Scott (Edmund Scott—pen.) sudah menyebutkan penggunaan tembakau yang luas di Banten: “They (the Javans) doelikewise take much tobacco and opium”, dan pada tahun 1626 Kompeni sudah mengepakkan penjualan komoditi itu di Batavia. Di Hindia Belanda, tembakau banyak ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi yang tidak dihuni orang. Tembakau lokal ditanam penduduk untuk dikonsumsi kalangan sendiri. Pribumi menanam tembakau di tanah beririgasi, juga di tanah tegalan dan pekarangan. Tembakau ini dipakai penduduk untuk dibuat rokok, atau dikunyah begitu saja setelah mengunyah sirih.

Bagi yang hidup berasal dari desa, pernah melihat dalam kebudayaan jawa terdapat embah-embah kita mempunyai kebiasaan nyusur atau nginang, yaitu mengunyah sirih, pinang, gambir, tembakau, dan campuran bahan lainya hingga mulut menjadi merah. Ini bukan tanpa alasan, beberapa orang tua yang masih melakukan hal semacam itu, ketika saya tanyakan bertujuan untuk mengawetkan gigi dan menghilangkan kuman-kuman mulut.

Pun ternyata di luar jawa juga ada kebudayaan atau kebiasaan mengunyah tembakau tersebut hampir di seluruh wilayah Nusantara, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua, terdapat kearifan tersebut. Tetapi sayang sungguh disayang kebiasaan yang sudah dilakukan mungkin beratus tahun lalu oleh nenek moyang kita, juga tak luput dari sentuhan kampanye anti tembakau.

Agus Sunyoto, ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (LESBUMI NU) yang juga seorang sejarawan, pada acara Maiyahan Cak Nun di Trowulan mengatakan beliau menemukan dokumen bahwa pada sekitar abad II sekitar tahun 280 masehi, pegawai bea cukai dari pelabuhan Guangzou China mencatat kapal “Kunlun” yang datang dari selatan yaitu jawa, kapal dengan panjang 70 meter dan tinggi geladak 10 meter dari permukaan laut, serta mampu memuat 700 orang dan barang 10 ribu ton barang perdagangan, dengan 100 anak buah kapal.

Ini bukti bahwa sebelum VOC hadir yang merupakan kekuatan ekonomi kolonial, perdagangan di kepulauan Nusantara telah sangat marak dan berkembang, dengan hasil bumi yang berupa rempah-rempah yang mampu menguasai pasar internasional dan menjadi sebuah daya tawar juga daya tarik bagi bangsa barat. Bagi yang mendalami sejarah tentunya mengetahui kemasyhuran perdagangan bangsa Nusantara dahulu.

Rempah-rempah menjadi pemicu bangsa barat, karena ingin mendapatkan barang murah langsung dari sumbernya mereka melakukan pelayaran ke kepualauan Nusantara. Alasan lainnya karena bangsa barat pada waktu itu beranggapan bahwa posisi asia sebagai sentra ekonomi-perdagangan dinilai jauh lebih mapan ketimbang kondisi di Eropa yang masih diselimuti oleh peperangan.

Dengan jalan atau pintu masuk perdagangan itulah merkantilisme barat dimulai. Penguasaan perdagangan, penguasaan politik, kebudayaan , keyakinan dan lain sebagainya. Singkat kata, misi perdagangan Belanda berubah menjadi penguasaan atas kepulauan Nusantara. Menjadikan nusatara sebagai perkebunan raya untuk mensuplai kebutuhan-kebutuhan barang yang tidak bisa ditanam di tanah eropa. Tebu, teh , kopi, tembakau, serta komiditi-komoditi asli Nusantara seperti kopra, cengkeh, serta rempah-rempah lain sebagainya, menjadi bahan pundi-pundi ekspor, pundi-pundi kekayaan Negeri Belanda.

 

Bersambung….

Kretek dan Konspirasi dibaliknya (Bag.2) 

Advertisements

2 thoughts on “Rokok Kretek dan Perlawanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s