BERANDA

Penjajahan “Kretek”: Imperium Dalam Kapitalisme

Rokok Kretek dan Konspirasi dibaliknya Bag. 3 (Habis)

nicotin-war

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang melahirkan Negara Indonesia, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengandung anak-anak perjuangan, bangsa Indonesia adalah yang memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukanlah sekumpulan dari suku-suku yang berkonsensus nasional untuk membentuk Negara Indonesia, jadi lebih luas, lebih cair, dan lebih panjang lintasan sejarahnya.

Telah berabad-abad lalu bangsa kita kenyang terhadap retorika kepentingan kolonialisme. Terberangus ilusi peradaban dunia baru yang menawarkan mimpi-impi kebesaran, modernitas, serta globalisasi. Nyatanya hanya dinikmati oleh sekolompok kecil yang disebut penjajah, itupun juga harus dibayar mahal oleh seluruh lapisan masyarakat pada generasi pendahulu kita, dikekang dalam kemandirian, dan jatuh ke dalam kubangan penderitaan yang dalam. Sementara itu, sejarah pun membuktikan arus kolonialisme pada era leluhur kita berlanjut dalam arus pragmatisme globalisasi (neokolonialisme) yang saat ini terus menggerus fundamental kedaulatan bangsa Indonesia.

Memang Indonesia adalah surga bagi produsen rokok kretek, dimana 92% perokok mengkonsumsi rokok kretek. Namun, dengan adanya perangkat hukum penamanaman modal dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 200/PMK.04/2008 dan turunannya berupa regulasi Bea dan Cukai yang mengharuskan semua perusahaan rokok memiliki gudang/brak berukuran minimal 200 meter persegi telah berhasil membuka peluang pencaplokkan perusahaan besar rokok kretek serta merontokkan industri kecil rokok kretek (produksi kurang dari 300 juta batang rokok per tahun) di negeri ini.

Menurut Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), jumlah produsen rokok kecil menurun drastis dari 3.000 buah menjadi 1.330 atau 55.6%. Di sisi lain dominasi modal asing semakin berkuasa sehingga sebagian besar keuntungan yang didapat dari tiap batang kretek yang dibakar warga Negara Indonesia harus dikirim kepada pemilik modal besar asing. Pangsa rokok di Indonesia saat ini benar-benar dikuasai oleh perusahaan asing tidak hanya produk rokok putih namun juga rokok kretek. Selain produk rokok putih mereka yang sudah menguasai 50 persen pasar rokok putih di Indonesia, PT Philip Morris Indonesia perusahaan afiliasi dari Phillip Morris Inc. juga telah mengakuisisi kepemilikan saham PT. HM. Sampoerna Tbk perusahaan rokok kretek milik keluarga Sampoerna atau Lim Seeng Tee dari Surabaya sebesar 98,18% pada bulan Mei 2005. (Kretek Pustaka Nusantara: Hal. 45-46). 

Perkembangan perang tembakau modern ini tak lepas lewat lembaga-lembaga otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi yang diseponsori atau berdasar pesanan industri farmasi. JHU (John Hopkin University) yang sejarah pendiriannya dan kebesarannya dekat dengan tradisi medis, menjadi salah satu bagian dari dinamika industri medis modern. JHU didirikan oleh Johns Hopkins pada 22 Januari 1876. Dia seorang filantropis yang dilahirkan dari keluarga petani tembakau di Maryland, yang memiliki lahan pertanian tembakau 2.000 meter persegi, dan mempekerjakan sedikitnya 500 budak. Lebih dari satu abad sejak didirikan, pada 2009 JHU dinobatkan sebagai universitas di urutan pertama yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, medis, dan pengembangan riset teknik rekayasa (engineering) di Amerika oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Nasional (NSF). Yang menarik dalam proyek-proyek riset dan penelitian ilmu pengetahuan modern, JHU tidak berjalan sendiri melainkan didukung oleh para lulusannya yang menguasai industri dan modal. Kemitraan JHU dengan para industrialis kakap Amerika terjalin secara mutualisme lewat gerakan filantropis para miliarder negara itu, yang ikut mengendalikan gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi bagian dari progresivitas industri. Salah satunya yaitu Michael Bloomberg sebagai pemilik perusahaan raksasa media dan layanan data keuangan Bloomberg L.P. (MUSLIHAT KAPITALIS GLOBAL: Selingkuh Industri Farmasi Dengan Perusahaan Rokok AS. Hal 74) 

Para lulusan JHU itulah yang antara lain mendirikan Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health, sebuah lembaga riset yang menjadi bagian dari JHU yang bersama Bloomberg kemudian menjadi mesin utama dalam perang global anti-tembakau. Dengan dukungan keuangan Bloomberg yang luar biasa. Peran Bloomberg tidak sendirian ada nama antara lain peran Robert Wood Johnson Foundation, yayasan milik pendiri perusahaan farmasi Johnson & Johnson. Ada pula Bill & Melinda Gates Foundation, yayasan yang dimiliki Bill Gates, Rockefeller Foundation (RF). (MUSLIHAT KAPITALIS GLOBAL: Selingkuh Industri Farmasi Dengan Perusahaan Rokok AS. Hal 76). 

muslihat

Melalui Bloomberg Initiative, dana mengalir ke banyak lembaga di dunia. Di Indonesia, dana itu menyebar ke organisasi non-pemerintah, instansi pemerintah, perguruan tinggi, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berikut beberapa rincian yang disarikan dari buku Tipuan Bloomberg: Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok. 

  1. Pengurus Pusat Muhammadiyah pada 2010 menerima Rp 3,6 miliar demi mengeluarkan fatwa haram merokok.
  2. Indonesian Corruption Watch ( ICW) juga menerima 45.470 dolar (sekitar Rp427,418 juta) pada Juli 2010 demi mengonsolidasikan kampanye anti-tembakau untuk memulai perubahan fundamental pada aturan soal tembakau di Indonesia.
  3. Indonesian Institute for Social Development menerima 322.643 dolar (Rp 3,032 miliar) pada September 2010. Lembaga ini mengeluarkan penelitian yang mengkritik sistem tata niaga perdagangan tembakau yang diklaim merugikan serta memiskinkan petani.
  4. Lembaga Pusat Pengendalian Tembakau dan Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (Tobacco Control Support Centre-Indonesian Public Health Association atau TCSC-IPHA) menerima hingga 1,2 juta dolar (Rp 11,72 miliar) pada 2007-2009 untuk membuat pertemuan LSM anti-tembakau.
  5. Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) mereka menerima 225.178 dolar (Rp 2,116 miliar) atas jasanya itu dari Bloomberg pada Juli 2010.
  6. Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen Semarang dibayar oleh Bloomberg sebesar 106.368 dolar (Rp 999,85 juta) pada November 2010 untuk mendorong Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah Anti- Rokok.

Dan masih banyak lagi lembaga-lembaga yang menerima dana dari Bloomberg termasuk LPA, DPR, YLKI, dan beberapa pemda di Indonesia.

Terakhir yang paling aneh bagi saya ketika lawatan ke AS pada bulan oktober 2015 yang lalu, Presiden Jokowi menandatangani kesepakatan bisnis salah satunya investasi Phillip Morris sebesar 1,9 miliar dollar AS di Indonesia, padahal kita tahu bahwa Philip morris adalah perusahaan rokok asal AS. Serta beberapa data yang saya dapatkan bahwa import tembakau untuk rokok putih semakin bertambah kian tahun.

***

Ditulis oleh Andri Prasetyo (https://andriprasetyo.blogspot.co.id/)

Back…. 

Rokok Kretek dan Konspirasi dibaliknya (Bag. 1)

Rokok Kretek dan Konspirasi dibaliknya (Bag.2)  

 

Advertisements

One thought on “Penjajahan “Kretek”: Imperium Dalam Kapitalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s