BERANDA · Uncategorized

Merokok dan “Sense of Humor”

Pengurus-Muhammadiyah-1918-1921
Pengurus PP Muhammadiyah 1918 – 1921

Saatnya kaum humoris nan perokok taat, Memimpin !!!

Oleh Fuad Ramadhan

Tulisan ini sebenarnya muncul setelah saya membaca artikel Mas Iqbal Aji mengenai alasan mengapa kader-kader Muhammadiyah jarang sekali ada yang lucu. Dalam artikel tersebut pula Mas Iqbal membeberkan sebuah tesis bahwa anak-anak Muhammadiyah jarang ada yang lucu karena mereka kurang nongkrong. Mereka lebih suka rapat serius mbethoyong daripada cekaka’an membicarakan hal-hal selow. Mungkin artikel tersebut menjadi sebuah alternatif ataupun masukan pada kader-kader Muhammadiyah agar sedikit saja meluangkan waktu untuk nyangkruk. Tidak hanya bertemu di forum rapat serius saja. Bukankah nyangkruk adalah salah satu perwujudan hakiki dari silaturahim? Segeralah wujudkan forum nyangkruk, entah di rumah kolega, gardu siskamling ataupun warung kopi.

Namun ada sebuah hal yang mungkin mas Iqbal sungkan untuk menyampaikan dan sedikit beliau nafikan. Benar, ROKOK !. Bisakah sebuah obrolan menjadi gayeng tanpa klempas-klempus asap rokok? Mas iqbal menjelaskan, bahwa alasan itu bisa menjadi alasan subversif terhadap Muhammadiyah yang mana Majelis Tarjih sudah terlanjur mengeluarkan fatwa haram. Mas Iqbal nampaknya takut kehilangan berkah dari ke-Muhamaddiyah-annya. Eh, sampeyan ini jadi apa ndak toh berstatus warga Muhammadiyah? Kok pakai berkah segala.

Jadi begini, kalau anda (warga Muhammadiyah khususnya) pernah menyimak ceramah Cak Nun tentang rokok, anda akan menemukan sebuah pencerahan. Jangan khawatir, Cak Nun juga seorang Muhammadiyah. Cak Nun pernah menjelaskan, bahwa di Muhammadiyah itu ada dua madzhab. Pertama Muhammadiyyah Syafi’iyyah yang itba’ pada Buya Syafi’i Ma’arif. Madzhab ini adalah golongan yang tidak merokok. Kedua, Muhammaddiyah Malikiyyah yang mengikuti Pak Malik Fadjar dan gemar sekali merokok. Dari sini, apa berani Muhammadiyah mem-fasiq bid’ah haram-kan salah satu tokoh penting dalam perjalanan organisasi sebesar Muhammadiyah? Pak Malik Fadjar dan Pak AR Fachruddin tentunya.

Humor adalah sebuah proses logika. Jadi untuk menerbitkan humor, salah satu syaratnya anda harus cerdas. Mas Iqbal tentunya tahu, bahwa para perokok itu rata-rata adalah orang cerdas dan karakternya tuma’ninah alias tenang. Tentu anda masih ingat artikel yang pernah beliau tulis dahulu kala bagaimana cerdasnya kaum perokok. Pun saya yakin kader-kader Muhammadiyah sebenarnya banyak yang humoris dan cerdas pula tentunya. Namun sayangnya, mereka yang cerdas ini tidak diberi ruang aktualisasi diri di Muhammadiyah karena terdesak mereka yang tidak merokok. Semacam ada perasaan sungkan dan tidak berada di habitatnya karena aktivitasnya yang suka merokok di tengah kader lain yang memegang teguh keharaman rokok. Akibatnya yang muncul ke permukaan dan menjadi representasi kader muhammadiyah hari ini adalah mereka yang pembawaanya serius dan mereka yang lucu-biasanya perokok-menjadi hilang tak tahu rimbanya. Mas Iqbal contohnya.

Selain sebagai katalisator kecerdasan, rokok adalah media terampuh untuk menstabilkan tensi obrolan. Contohnya seperti ini, ketika saya dalam sebuah forum cangkrukan bersama teman-teman membicarakan suatu topik, maka akan timbul fluktuasi irama. Jika dirasa irama dan tensi obrolan sudah mulai meningkat serta diwarnai perdebatan, seringkali teman nyangkruk menyela “sek, sek, sedoten sek ududmu tur sruputen kopimu ben uratmu gak pedhot”. Ketika timbul jeda itulah tensi obrolan akan menurun dan humor akan terbit untuk melumasi topik obrolan.

Nah, inilah saatnya mereka yang lucu, cerdas, dan perokok seperti halnya Mas Iqbal untuk tampil ke depan. Manusia secerdas Mas iqbal harus diberikan panggung utama di Muhammadiyah. Ia tidak boleh lagi mondar mandir kesana kemari, apalagi nyopir truk di Ostraliyah sana.  Harus ada yang menggantikan sosok-sosok Muhammadiyah cerdas, lucu nan perokok semacam Pak AR dan Pak Malik Fadjar.  Tapi sepertinya itu sulit. Lha gimana, ketika saya membaca beragam komentar ketika artikel Mas Iqbal dibagikan akun Muhammadiyah Studies ada sebuah komentar bahwa agama bukan untuk dihumorkan.  Disitu saya merasa Asyolole.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s